GARDUOTO – Sejalan dengan filosofi eksplorasi yang diusungnya, Wuling Motors memberikan kami kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan dari Eksion.
Kesempatan mengeksplorasi SUV terbaru Wuling ini dibalut dalam rangkaian acara media test drive Wuling Eksion, yang mengambil rute Yogyakarta – Pangandaran – Bandung – Jakarta, yang digelar pada 8 – 10 Juni 2026.
Adapun unit Wuling Eksion yang digunakan dalam kegiatan kali ini ialah tipe dengan jantung pacu plug-in hybrid (PHEV).
Di perjalanan ini, kami mendapat jatah mengemudi di etape pertama dengan rute Yogyakarta – Cilacap.
Sewaktu kami masuk ke ruang pengemudi, kami langsung disambut dengan posisi mengemudi yang tinggi khas sebuah SUV murni.
Merasa langsung nyaman dengan posisi mengemudinya, kami pun langsung melajukan Eksion PHEV ke Cilacap via Jalur Pansela (Pantai Selatan).
Boleh dibilang, perjalanan sejauh 140.7 km ini sepenuhnya melewati jalan beraspal. Hanya saja, kontur permukaan jalannya berbeda-beda.
Mulai dari jalan aspal yang mulus, bergelombang, hingga yang sedikit berbatu, kami lewati dalam perjalanan ini.

Keberagaman kondisi jalan ini membuat kami bisa menilai kenyamanan dan bantingan suspensi dari Wuling Eksion.
Ternyata, SUV yang sebasis dengan Darion ini punya bantingan suspensi yang dewasa. Dalam artian, suspensinya mampu meredam guncangan dengan baik, yang bisa menjaga kenyamanan semua penumpang di kabin.
Bahkan saat melewati speed trap, rasanya seolah seperti hanya melibas jalan aspal biasa. Sebab, nyaris tidak terasa adanya guncangan saat melewati speed trap.
Ragam kondisi jalan yang berbeda-beda itu, tentunya juga secara langsung sekaligus menjadi momen unjuk gigi performa Eksion PHEV.
Mengusung teknologi PHEV, sudah pasti kalau Eksion punya dua sumber tenaga, yaitu dari mesin bensin dan motor listrik.
Kombinasi antara keduanya bisa menghasilkan tenaga sebesar 200 dk, yang disalurkan ke roda depan melalui transmisi Dedicated Hybrid Transmission (DHT).
Jika baterai dalam kondisi penuh, mobil bisa berjalan dengan hanya mengandalkan tenaga listrik hingga sejauh lebih dari 100 km.
Benar saja, sejak kami mulai berjalan, di mana baterai dalam kondisi penuh, mobil sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik.

Akan tetapi, jarak tempuh yang kami capai dengan hanya mengandalkan tenaga listrik cuma bisa mencapai 80-an km, alias tidak sampai 100 km.
Itu karena kami menemui jalanan yang berkelok tajam dan kadang menanjak cukup tajam. Kondisi tersebut jelas menuntut motor listrik untuk bekerja lebih keras buat menyuplai tenaga.
Ketika baterai sudah habis, mesin pun langsung mengambil peran untuk menyalurkan tenaga sekaligus mengkonversi tenaganya menjadi daya baterai.
Bukan cuma dari tenaga mesin yang dikonversi, baterai Eksion PHEV juga bisa terisi lagi dari regenerative brake, alias saat melakukan deselerasi.
Bila baterai sudah kembali terisi, mobil pun bisa berjalan lagi dengan hanya mengandalkan tenaga dari motor listrik, sehingga dapat menghasilkan tenaga kombinasi yang maksimal.
Yang mengesankan, tenaga kombinasi antara motor listrik dan mesin Eksion PHEV, bisa menyuguhkan performa yang impresif.
Muntahan tenaganya terasa kuat dan instan. Bahkan saat kita melakukan kickdown, ia bisa memberikan sensasi menjambak dan membuat kita serasa ditarik lebih dalam ke pelukan bangku.
Intinya, secara performa, Wuling Eksion PHEV terbilang impresif karena ia punya tenaga yang besar dan kuat, serta instan apabila disemburkan dari motor listriknya.
Kemudian jangan lupakan juga, berkat jarak tempuh di EV mode yang cukup jauh, membuat mobil ini jadi sangat efisien. (GO/Gie)


