Bedah OtoMobil

Review Nissan Kicks: Mobil Listrik Paling Fleksibel


GARDUOTO – Nissan Kicks memang bukan lagi mobil yang benar-benar baru di Indonesia. Sebab, Kicks diluncurkan secara resmi di Indonesia pada September 2020 silam.

Namun, selama 15 bulan kiprahnya di Tanah Air, belum ada mobil dari pabrikan lain yang memiliki kepraktisan dan fleksibilitas seperti Nissan Kicks. Pendek kata, sampai hari ini, Kicks masih jadi mobil listrik yang paling fleksibel yang ada di Indonesia.

Sefleksibel apakah Nissan Kicks, serta seperti apa rasa dan sensasi berkendara dari tenaga listriknya? Kita akan bahas itu semua di artikel ini.

Nissan Kicks punya tampilan yang proporsional. Foto: Nugie

Desain Eksterior Masih Segar

Meskipun sudah berumur satu tahun lebih, namun desain Kicks masih tampak segar dan belum terkesan usang. Bahkan jika kita bandingkan dengan mobil listrik bergenre crossover seperti Hyundai Kona electric facelift yang muncul setelahnya, tampilan Kicks tetap tidak kalah atraktif.

Fascia depan Kicks tampak berkarakter berkat gril besar berwarna hitam, dengan sentuhan krom yang agak tminimalis di bagian luarnya dan di bawah headlamp. Guratan krom tersebut juga membentuk pola huruf V, yang merupakan kontemplasi dari bahasa desain V-Motion kebanggaan Nissan.

Bagian samping Kicks juga tampak proporsional berkat pemakaian ban berukuran 205/55 dengan pelem berdiameter 17 inci. Peleknya sendiri bermotif palang lima dengan warna two tone.

Tanpa perlu berlama-lama memandang buritan Kicks, kita pasti akan langsung teringat dengan kakaknya, Juke. Pasalnya, Kicks memang mempunyai tarikan garis atap belakang yang menukik, model buritan, dan lampu belakang yang mirip dengan Juke.

Bedanya, atap belakang Kicks lebih tinggi dari Juke. Lampu belakangnya pun memiliki reflektor pada bagian atasnya, dan bentuknya tidak terlalu menyerupai sebuah bumerang.

Selain itu, bentuk pintu bagasinya juga tampak mirip dengan kepunyaan X-Trail. Semua hal itu cukup untuk membuat tampilan belakang Kicks jadi terkesan lebih kekar dan proporsional.

Mesin Nissan Kicks hanya berfungsi sebagai genset. Foto: Nugie

Mesin dan Motor Listrik

Inilah keistimewaan Nissan Kicks yang masih belum tertandingi. Mobil ini menggunakan mesin untuk mengisi daya baterainya. Artinya, kita hanya perlu mengisi bensin untuk membuat baterainya tetap hidup.

Mesin yang dipakai sebagai genset memiliki kapasitas sebesar 1.2 L tiga silinder. Mesin tersebut menyalurkan dayanya ke motor listrik yang bertenaga 127 dk dan torsi 260 Nm, dan kemudian menggerakkan dua roda depannya. Baterainya sendiri mempunyai kapasitas sebesar 1,5 kWh.

Makanya, meski masih terdapat mesin, tapi Kicks murni digerakkan oleh motor listrik. Mesin hanya akan bekerja saat ia mengisi daya motor listrik, baik itu saat mobil dalam kondisi diam, atau berjalan di kecepatan konstan minimal 60 km/jam.

Pengecasan motor listrik dari bensinnya dilakukan secara otomatis oleh sistemnya. Jadi, kita tidak bisa mengatur kapan kita mau mulai melakukan pengecasan dan menyudahinya.

Jangan lupakan juga, seperti mobil listrik atau hybrid pada umumnya, Kicks juga dilengkapi dengan regenerative brake, yang akan akan mengisi daya baterai saat kita melakukan deselerasi dengan cara engine brake, atau menginjak pedal rem.

Desain interior, terutama dasbor Kicks terkesan simple. Foto: Nugie

Desain Interior Simple

Aura kabin Nissan Kicks terkesan simple, utamanya karena tidak ada guratan garis tajam yang mencolok pada dasbornya, dan interiornya yang dominan warna hitam juga makin memperkuat kesan tersebut.

Meski demikian, secara kualitas material, Kicks boleh diadu dengan mobil yang harganya lebih mahal. Sebab, ada cukup banyak material empuk yang terdapat di kabinnya.

Material empuk yang terdapat di kabin Kicks tersebar di bagian jok, dasbor, door trim, arm rest tengah depan, dan setir. Untuk setirnya, ia menganut model flat bottom yang tidak hanya mantap digenggam, tapi juga tampak sporti.

Satu hal yang cukup menarik di interior Nissan Kicks, terutama pada area kokpit adalah tuas transmisinya. Bentuknya kecil mirip seperti fisik tuas transmisi game konsol.

Pengoperasiannya pun juga sedikit unik, karena setelah kita pindahkan posisinya ke R,N, atau D, tuasnya akan kembali lagi ke tempat semula. Lagi-lagi ini mirip seperti pengoperasian fisik tuas transmisi pada game konsol.

Keunikan lainnya adalah jika kita ingin masuk ke posisi N, kita perlu menggeser tuasnya, dan menahannya selama sekitar dua detik. Lalu untuk masuk ke P, kita hanya perlu menekan tombolnya yang berada di bawah tuas transmisinya.

Nissan Kicks punya volume bagasi yang luas. Foto: Nugie

Akomodasinya Mengesankan

Dimensi Nissan Kicks memang terbilang kompak. Tapi dibalik kompaknya dimensi Kicks, ternyata ia punya akomodasi yang lega, bahkan kelegaannya bisa disandingkan dengan sebuah Medium SUV atau Crossover.

Kami yang berpostur 175 cm masih mendapatkan legroom dan headroom yang sangat memadai saat duduk di belakang, dengan kondisi bangku pengemudinya sudah kami atur sesuai dengan posisi berkendara ideal kami.

Kerebahan bangku belakangnya pun juga cukup, dan tidak tegak. Itu tentunya akan membuat penumpang belakangnya akan tetap nyaman dan rileks saat melakukan perjalanan jauh.

Sayangnya, tidak ada arm rest di bangku belakang Nissan Kicks. Seandainya ada arm rest, pastinya itu akan membuat penumpang belakang jadi semakin nyaman dan rileks.

Meski hanya single zone, namun AC Nissan Kicks sangat dingin. Foto: Nugie

Di sisi lain, tidak adanya arm rest di bangku belakang Nissan Kicks, membuat mobil ini bisa menampung hingga tiga orang di belakangnya. Apalagi, bagian tengah bangku belakang Kicks punya busa yang empuk dan lantainya pun juga rata.

Bagasi Kicks pun juga tidak kalah impresif dengan akomodasi bangku belakangnya. Bagasinya luas dan memanjang, sehingga ia mampu menampung banyak barang, bahkan yang berukuran besar sekalipun.

Kalau ruang bagasinya masih terasa kurang luas, kita bisa membuatnya jadi lebih luas lagi dengan cara melipat bangku belakangnya. Namun lagi-lagi kami menyayangkan pelipatan bangku belakang Kicks yang tidak rata lantai.

Walau masih ada kekurangannya, namun kami tetap puas dan terkesan dengan akomodasi Nissan Kicks, karena mobil ini akomodatif untuk orang dan barang.

Ilustrasi pengecasan baterai dari mesin terpampang di instrument cluster. Foto: Nugie

Rasa Berkendara Khas Listrik

Sewaktu kami menekan tombol start/stop engine-nya, mesinnya juga ikut menyala. Uniknya, saat mesin dinyalakan, tidak ada raungan atau getaran khas tiga silinder seperti pada umumnya. Lalu tak lama setelahnya, mesinnya mati, dan hanya motor listriknya saja yang menyala.

Begitu dijalankan, mobil ini langsung melaju secara senyap dan instan. Ini tak mengherankan karena ia punya torsi yang besar yang bisa dengan mudah menjalankan kendaraan sejak tarikan bawah.

Sama seperti mobil listrik Nissan lainnya, Kicks juga dilengkapi dengan teknologi one pedal driving, yang membuat mobil bisa berhenti dengan sempurna tanpa perlu diinjak remnya.

Biarpun bisa melakukan pengereman secara otomatis, namun tetap ada kalanya kita perlu menginjak pedal rem. Misalnya seperti saat kita ingin melakukan hard braking, atau menghentikan mobil dari kecepatan tinggi.

One pedal driving ini bekerja di semua mode berkendara Kicks, yaitu Eco, Normal, Sport, dan EV. Khusus di mode Normal, one pedal driving ini baru akan bekerja saat kita memposisikan gigi di posisi B, alias brake.

Sementara di mode Eco, sistem one pedal driving ini bekerja dengan lebih cekatan, guna menyerap lebih banyak energi untuk mengisi daya baterai. Di samping itu, muntahan tenaga di mode Eco juga terbilang kurang responsif.

Tombol pilihan mode berkendara dan EV mode diletakkan terpisah. Foto: Nugie

Di mode Sport, muntahan tenaganya memang lebih instan dan responsif, dengan sistem one pedal driving tetap bekerja secara normal, tapi mesin sedikit lebih sering menyala untuk menyuplai daya ke motor listrik.

Beralih ke mode EV, di sini mobil akan digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik, mesin akan beristirahat dan tidak mengisi daya baterai. Kita baru bisa berkendara di mode EV apabila baterai sudah terisi minimal setengah. Mode EV akan non-aktif dengan sendirinya jika baterai hanya tinggal tersisa seperempat.

Terlepas dari penjelasan soal perbedaan tiap mode berkendara Kicks yang cukup kompleks, mobil ini terasa menyenangkan untuk dikendarai karena beberapa alasan lain selain tenaganya.

Pertama, ia punya posisi mengemudi yang ergonomis karena setirnya bisa diatur tilt dan teleskopik, dan ditunjang lagi dengan joknya yang empuk dan memeluk tubuh dengan baik.

Kedua, mobil ini punya handling yang baik untuk sebuah crossover. Handling yang baik itu merupakan hasil kombinasi dari bantingan suspensi dan feedback setir yang cukup pas.

Ditambah lagi dengan dimensi mobil yang kompak, membuat kita akan semakin senang dan percaya diri setiap ingin melakukan manuver dengan Kicks.

Tuas transmisi Nissan Kicks berbentuk kecil. Foto: Nugie

Konsumsi BBM Bikin Tersenyum

Lantaran menggunakan bensin untuk mengisi daya baterai, tentunya Kicks masih mempunyai catatan konsumsi BBM seperti mobil-mobil konvensional pada umumnya.

Pastinya, Kicks mempunyai catatan konsumsi BBM yang hemat. Sekali lagi, itu dikarenakan mesinnya hanya menyala saat hendak mengisi daya baterai saja, dan sama sekali tidak melakukan pembakaran untuk menyalurkan tenaga dan torsinya ke roda penggerak.

Dari hasil pengetesan kami, di dalam kota, Kicks mampu mencatatkan konsumsi BBM di angka 1:18 km/liter. Kemudian saat berjalan konstan di tol dengan kecepatan 100 km/jam, Kicks berhasil catatkan angka 1:21,4 km/liter.

Rute kombinasi pun juga tak luput dari pengetesan kami, di sini angka yang didapatkan adalah 1:22,1 km/liter. Itu semua adalah hasil yang kami dapat dengan menggunakan bahan bakar bernilai oktan 92.

Pelek Nissan Kicks berdiameter 17 inci dengan profil ban 205/55. Foto: Nugie

Kesimpulan

Sampai hari ini, kami menilai bahwa Nissan Kicks masih menjadi mobil listrik yang paling fleksibel karena ia hanya memerlukan bensin untuk mengisi daya baterainya.

Penggunaan bensin untuk Kicks juga tidak akan membuat kantong bolong karena konsumsi BBM-nya bisa dibilang sangat irit. Bahkan jika baterainya banyak, kita bisa berkendara dengan mode EV, dan mesin akan beristirahat, sehingga pemakaian bensin jadi makin efisien.

Di luar semua hal teknis tersebut, Kicks juga punya nilai fun to drive yang baik, karena handling-nya mumpuni untuk ukuran sebuah crossover, feedback setirnya cukup responsif, bantingan suspensinya pas, dan jauh dari kata limbung.

Terakhir yang tak kalah penting, Kicks juga punya akomodasi yang jempolan. Bangku belakangnya bisa menampung hingga tiga orang dengan nyaman, dan bagasinya juga sanggup untuk mengakomodir banyak barang karena volumenya luas.

Saat ini, Nissan Kicks dijual seharga Rp 479 juta on the road DKI Jakarta. Dengan harga jual yang masih di bawah Rp 500 juta, rasanya Kicks mempunyai value for money yang sangat baik di kelas mobil listrik.

Sebab, ia punya fleksibilitas yang belum tertandingi oleh mobil listrik lainnya, akomodasi yang lapang, fun to drive, dan tampilan yang atraktif sebagai pelengkapnya. (GO/Gie)

Velozity Salurkan Bantuan Langsung ke Warga Yang Terdampak Erupsi Semeru

Previous article

Odyssey Tak Dijual Lagi, Honda Jamin Konsumennya Tak Perlu Khawatir

Next article

You may also like

More in Bedah Oto

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *